Quite a Day
Kalau lagi sedih sama hal A, terus sedih lagi sama hal B, sedih yang pertama jadi terasa dobel. Terus, karena sedih yang pertama dobel, yang kedua jadi berasa dobel, juga. Begitu terus.
Baru dua hari kemaren harus (terpaksa) putus sama (mantan) pacar. Dari kemarin lusa ke hari ini sih, ya belum terlalu terasa pedihnya. Lalu hari ini dipaksa putus lagi, kali ini sama harapan. Haha. Miris. Seharusnya sih tidak sebegitu sedih pas pulang. Tapi ya, karena masih terbawa suasana dua hari lalu, agak susah buat nahan bibir yang gemetar.
Jadi hari ini, tadi pagi, aku yang masih patah hati ini (ckck) mengikuti tahap kedua dari tes BDP, BCA Development Program. Kalau dihitung dari awal, sebenarnya sudah tiga kali. Yang pertama, wawancara singkat di booth Job Fair yang diadakan JobsDB di Balai Kartini, September. Kemudian ‘Personality Test’, seminggu setelahnya. Lalu Psikotest, pagi ini, dua minggu lebih setelah tes sebelumnya.
Harus diakui, psikotest nya susah. Susah buat aku, oke. Sudah baca-baca sedikit di malam sebelumnya, yah, biar ada bayangan bagaimana soal-soalnya, kira-kira begitu. Dulu sekali, waktu masih kuliah tingkat pertengahan, pernah diajak Resty ikut simulasi psikotest, karena dia lagi kuliah tentang itu. Ikut psikotest ke Unisba sama Irma dan Awet. Waktu itu lah kenal jenis-jenis soal psikotest, dari yang umum seperti deret gambar, logika matematika, logika gambar atau bangun ruang (yang, susah. zzzttt), yang belum pernah dikenal seperti Test Pauli/Kraeplin (eh itu kayaknya ejaannya salah deh), sampai yang deg-degan mengerjakannya walaupun sebenarnya bikin rileks yaitu tes Wartegg (meneruskan gambar) dan gambar pohon serta orang. Yang terakhir-terakhir ini bikin deg-degan karena langsung goresan tangan sendiri, takut dianggap Freak kalau gambarnya aneh. Zzzttt.
Waktu itu hasilnya tidak bisa diketahui. Selain karena memang bersifat rahasia, toh mahasiswa-mahasiswa psikologinya pakai hasilnya untuk latihan. Tapi Resty bilang nanti ‘dibisikin’ deh hasilnya, kalau dia bisa akses, karena bukan dia yang tes kami bertiga. Lalu kami tahu hasilnya. Kaget, karena angkanya jauuh dibanding tes IQ yang dulu pernah dilakukan waktu sekolah. Sempet stress juga, emang kami sebegitu membodohnya kah? Itu bukannya angka anak-anak kebutuhan khusus? Pokoknya bingung sendiri sama Irma dan Awet. Tapi lalu dibilang kalau hitungan yang sekarang sudah beda. Angka yang ini setara dengan angka yang waktu masih sekolahan dulu. Oh.
Karena itu, berangkat tes pagi tadi jadi grogi. Takut kalau tidak akan melewati standar yang dibutuhkan BDP. Tapi ya kita kan harus coba. Maka berangkatlah, pagi-pagi sekali ke Wisma Asia Slipi. Ini memang gedung punya BCA. Tidak seperti Personality Test yang sebelumnya, di Sunter. Waktu di Sunter, suasanya aneh sekali. Lokasinya di ruko-ruko yang baru dibangun, bahkan belum selesai. Tampak tidak formal. Soal-soalnya mirip Psikotest, tapi cuma 50 soal dengan EPPS juga 50 soal. Tanpa gambar-gambaran. Dan cuma sejam saja. Yah, kalau kata orang disebelah yang tadi dicuri dengar, itu seperti pancingan saja. Mungkin benar juga, seperti mengisi waktu sambil BDPnya masih buka lowongan. Oke ini flow penceritaannya maju mundur gak jelas.
Pagi tadi barulah semuanya tampak resmi, seperti test lowongan pekerjaan untuk karir yang bonafid. Di kantor yang tinggi dan sibuk. Lalu dimulai lah Psikotest yang ternyata susah itu. Kalau analogi-analogi verbal masih bisa lah. Masuk ke logika hitungan mulai bolong-bolong. Logika gambar makin bolong-bolong. Lupa kalau ada hafalan kata juga. Kemudian Pauli, yang berjalan super lambat. Hanya bisa lebih 3 atau 4 lajur di halaman kedua, sementara beberapa orang di kelas ada yang tambah lembar. Lalu selesailah. Masih berharap. Sedikit.
Kemudian makan siang, yang enak. Haha. Nasi kotak dari dCost. Selama makan (yang semuanya sampe buah nya dihabiskan juga) diam-diam saja, tidak ngobrol basa-basi sama sesama rekan tes. Soalnya pusing, gara-gara kertas Paulinya. Selain itu juga karena deg-degan sih, mulai merasa kayaknya-gak-akan-lulus deh ini. Tapi masih doa-doa dalam hati. Akhirnya, hasil tesnya keluar. Memang diawal sudah disebutkan kalau nomor peserta yang bisa lanjut ke tahap berikutnya akan diberitahukan. Yang nomornya tidak terpajang, silahkan pulang dengan lapang dada. Dan, tidak lulus. Maka pulanglah. Awalnya turun biasa saja. Lalu menunggu bus didepan kantor.
Waktu melamun menunggu bus ini lah. Ntah kenapa rasanya sedih… Setelah sms mama, yang dibalas dengan pantun kocak dan pesan hati-hati pulang, sms Dia juga. Hanya dibalas “Aduuh. Sayang sekali ya.” Oke, baru dua hari putus, tapi rasanya wajar kalau masih mengharapkan sedikit hiburan. Bukan, bukan menjadi manja. Hanya saja, berturut-turut mesti menerima hal yang tidak enak itu…ya tidak enak. Kemudian teringat waktu pertama melamar pekerjaan ini, langsung diwawancara di tempat, Dia menemani. Menjemput menemani, mengantar pulang. Bersenang-senang seperti hari-hari baik kami.
Diperparah dengan rute pulang siang tadi. Busnya melewati salah satu dari rute dimana kami banyak bercanda, karena jalanan macet dan segala macamnya, di hari-hari terakhir kami bisa jalan-jalan. Melewati Samsung Service Center di Arteri Pondok Indah, yang bikin ketawa kecil sendiri, tapi kemudian langsung berkaca-kaca lagi. Perjalanannya jadi sulit. Selain dipaksa kehilangan harapan, kenangan-kenangan ini tidak sopan minta diingat-ingat di hari ini. Padahal harus ingat untuk tetap terlihat ceria begitu sampai dirumah biar mama santai saja.
Maka, daripada pikiran-pikiran negative memaksa muncul. Seperti kenapa-harus-putus-sih-kenapa-tidak-coba-dulu atau ya-Dia-sih-yang-pergi-jadi-mungkin-gak-seberat-aku atau sekarang-gak-punya-hak-apa-apa-kalau-Dia-mensyen-mensyenan-yang-bikin-penasaran dan pikiran-pikiran lain semacam itu yang hanya bikin tambah lelah perasaan, ditulis saja apa adanya hari ini. Barangkali bisa bikin lebih tenang. Walau sakit kepala (masih curiga ini gara-gara kertas Pauli sih. Angka-angkanya tadi melayang-layang) masih belum hilang. Sekian.
Komputer Rumah, 13 Oktober 2011, 5.23PM